Movie of the Month : FURIOUS 7

CloseUp Movie of the Month : FAST & FURIOUS 7

CloseUp Movie of The Month

  

Ternyata tidak mudah menuju tujuh bagi salah satu franchise action terbesar di jagat ini. Bukan hanya karena sekedar masalah pergantian sutradara dari Justin Lin yang sepertinya sudah mulai lelah setelah menanganinya sejak Tokyo Drift 2006 lalu kepada sutradara Insidious James Wan, bukan itu masalahnya, namun hantaman terbesar adalah ketika franchise ini harus kehilangan sosok Paul Walker. Ya, seperti yang kita ketahui, akhir November 2013 lalu dunia dikejutkan dengan kematian Paul Walker dalam sebuah kecelakaan lalu lintas, peristiwa itu jelas menjadi pukulan telak buat para moviegoers dunia, khususnya bagi para keluarga besar Fast & Furious.


Tentu saja kematian Walker yang sangat mendadak itu sedikit banyak sudah merubah segalanya, namun proses syuting sudah separuh dilakukan, tidak ada jalan untuk kembali apalagi berhenti, ya, the show must go on dengan atau tanpa Walker sekalipun, efek dari tragedi ini tentu saja sempat membuat pusing tujuh keliling petinggi Universal, bagaimana mereka melanjutkan instalemen ke-tujuh ini tanpa Walker. Skripnya kemudian kembali digodog ulang, pilihannya kemudian antara mematikan karakter Brian O’Conner atau memberhentikannya dengan hormat di mana jawabannya akan bisa kamu temukan di sini.


Setelah berhasil meringkus gembong kriminal Owen Shaw dan krunya, kini gank pembalap pimpinan montir kharismatik Dominic Toretto (Vin Diesel) harus berhadapan dengan dosa yang ditinggalkannya di peristiwa London itu. Ada abang Owen, Deckard Shaw (Jason Statham), mantan tentara rahasia dengan kemampuan membunuh luar biasa datang dan mulai menebar teror balas dendam. Tidak mudah menemukan apalagi menangkap Deckrad yang licin, karenanya Dom tidak menyia-nyiakan tawaran Frank Petty (Kurt Russell) yang menugaskannya untuk menyelamatkan Ramsey (Nathalie Emmanuel), perentas handal sekaligus pemilik teknologi pelacak paling canggih; God’s Eye yang memiliki kemampuan untuk melacak siapapun di manapun dari tangan kelompok teroris bengis pimpinan Jekande (Djimon Hounsou), teknologi yang juga dijanjikan Frank kepada Dom untuk menemukan keberadaan Deckard.


Kematian tragis Paul Walker memang meninggalkan kedukaan teramat sangat, tidak ada yang memungkiri soal itu, namun di balik tragedi paling memilukan sekalipun selalu ada sisi positif yang bisa dipetik, dalam kasus ini secara wafatnya Walker secara tidak langsung sudah sedikit banyak menaikan hype-nya, memberi seri ke-tujuhnya ini sebuah promosi gratis tidak wajar yang harus diakui sangat efektif dalam tugasnya mengajak penontonnya untuk merasa wajib menonton episode ‘spesial’ satu ini, apalagi James Wan dan naskah rombakan Chris Morgan juga tahu benar bagaimana menghormati almarhum Walker dengan menjadikan Furious 7 (judul lainnya) menjadi sangat emosional, khususnya ketika ending perpisahan mengharukan itu sukses besar mengaduk-aduk jiwa sensitif penonton, terutama buat mereka yang sudah tumbuh bersama franchise ini.


Tetapi tentu saja sebelum menginjak akhir sentimentil yang mengharu biru itu, Wan punya tugas berat untuk membawa Furious 7 ke level yang lebih tinggi lagi ketimbang seri-seri terdahulu, atau paling tidak ia mesti lebih besar ketimbang seri terakhir peninggalan Justin Lin, Dan harus diakui untuk ukuran sutradara yang sebelumnya pekerjaannya hanya menakut-nakuti penontonnya di seputar rumah hantu yang sempit, Lin sudah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.


Mencoba mempertahankan semangat para pendahulunya, ada race wars, deretan supercar mewah, bikini dan lagu-lagu hip hop asik membuka segalanya. Kemudian tensi langsung menjadi naik ketika Wan memperkenalkan Deckard Shaw, sosok villiain yang sejauh ini adalah yang paling ganas di franchise ini setelah adiknya Owen Shaw dan penunjukan Jason Statham yang mengisi karkaternya bisa dibilang adalah langkah jitu . Statham adalah bintang laga paling laris saat ini, dan ia bisa tampil sama kerennya baik ketika menjadi protagonis maupun antagonis. Ya, sosok Deckard tak ayal langsung memberikan ancaman besar buat Dom dan kawan-kawan, apalagi sekarang ini konfliknya berada wilayah lebih personal yakni balas dendam dan keluarga, sesuatu yang diagung-agungkan Dom selama ini.


Maka Furious 7 kemudian tidak hanya menghidangkan sajian spesial mereka yang meliputi aksi balap dan stunt heist spektakuler yang kali ini kadar kegilaannya coba ditingkatkan Wan dalam taraf menampar logika. Dari aksi mobil terjun bebas ribuan kaki dari pesawat terbang seperti yang ditawarkan trailernya yang mengiurkan, penyelamatan hacker cantik dalam sebuah kejar-kejaran menegangkan di pinggir jurang maut sampai adegan Lykan Hypersport ngebut nekad di pencakar langit Abu Dhabi, sebuah adegan sinting yang hanya bisa dikalahkan oleh momen ketika Tom Cruise bergelantungan ngeri di seri ke-5 Mission Impossible, akan ada akan perburuan manusia besar-besaran masalahnya, siapa yang memburu dan siapa yang diburu terkadang serjng saling bertukar tempat, menghasilkan situasi aneh yang menghibur. Belum lagi untuk menu pertarungan jarak dekat, Furious 7 mempersembahkan duel-duel maut dari para jagoan aksi idola bersama visual akrobatik dari kamera enerjik Wan. Ya, kapan lagi menyaksikan The Rock meng-slam dunk Statham dan tidak setiap hari juga kita melihat Diesel menonjok Statham, Sementara pertarungan lain yang melibatkan bintang aksi Thailand Tony Jaa vs. Paul Walker dan Michelle Rodriguez yang harus baku hantam dengan superstar UFC cantik Ronda Rousey tentu tidak boleh dilewatkan begitu saja.


Meskipun tidak ada peningkatan berarti di naskahnya yang notabene masih tergolong dalam kelas dangkal, namun masalah utama Furious 7 bukan karena kualitas narasinya. Kita tahu bahwa semenjak kelahirannya tahun 2001 silam, seri-serinya memang tidak penah mengandalkan kekuatan naskah yang gemilang, pun demikian sampai serinya yang paling anyar. Kendala Furious 7 adalah terlalu banyak munculnya beberapa cast besar yang membuat muatannya menjadi semakin sesak, imbasnya, tokoh penting macam Deckard tidak pernah benar-benar mendapatkan porsi yang layak karena harus berbagi dengan sub-plot sub-plot yang seperti memutar panjang ketimbang langsung pada tujuan, efeknya terasa menjelang akhir di mana tensinya menjadi semakin melorot karena Wan seperti bernafsu menggeber gasnya terlalu kencang sejak separuh pertamanya, hasilnya klimaks yang seharusnya bisa dahsyat malah berakhir antiklimaks, terlalu banyak adegan yang memaksakan diri termasuk ledakan-ledakan generik mewarnai hiruk-pikuk yang ditimbulkan ‘cinta’ segitiga di Los Angeles itu, meskipun tidak sampai terasa janggal seperti sekuen landasan pesawat terbang tanpa ujung di Fast 6, namun untuk ukuran adegan puncak, Furious 7 gagal menutupnya dengan dahsyat, seperti misalnya penah dilakukan Justin Lin di instalemen ke-5 nya yang melibatkan brankas raksasa itu.


Kembali lagi ke adegan penutup. Ya, kita tahu apa yang terjadi pada Paul Walker, itu menghancurkan hati siapa saja. Dan tidak ada cara yang lebih pantas menghormati salah satu aktor paling penting dan paling dicintai di franchise ini selain memberinya ucapan selamat tinggal dengan cara yang elegan seperti yang dilakukan Wan di sini. Kematian Walker jelas memberi Furious 7 keistimewaan tersendiri, sebuah rasa kehilangan besar mengusik kalbu dari sosok jagoan yang akan dikenang selamanya. For you Paul.


Sumber: http://movienthusiast.com/fast-furious-7-2015/

 
close