Movie of the Month : KINGSMAN - The Secret Service (2015)

CloseUp Movie of The Month - KINGSMAN: THE SECRET SERVICE (2015)

CloseUp Movie of The Month

  

Jelas butuh keberanian lebih untuk menghadirkan franchise baru film spionase di era di mana dua J. B – James Bond dan Jason Bourne- masih menguasai mahligai dunia 'persilatan'. Tetapi meskipun masih terkesan bau kencur, kamu jelas tidak boleh meremehkan Kingsman: The Secret Service ketika ia kembali ‘mengawinkan’ seorang sutradara macam Matthew Vaughn dengan komik ciptaan Mark Millar. Ya, kita tahu kombinasi maut keduanya ketika versi live action dari komik Kick-Ass 2010 lalu berhasil menjadi salah satu adaptasi komik paling berpengaruh di era modern, sebuah cult hit yang dipuja-puja penonton dan kritikus terlepas dari kontroversinya. Vaughn sendiri dipercaya untuk proyek adaptasi komik yang lebih besar dalam reboot halus X-Men pasca kesuksesannya bersama Kick-Ass, jadi masih meragukan Kingsman: The Secret Service?


Kingsman semakin menegaskan bahwa Vaughn dan komik seperti Bonnie and Clyde, pasangan mematikan yang sejauh ini belum pernah gagal memesona. Diadaptasi dari komik The Secret Service-nya Mark Millar yang diciptakan bersama Dave Gibbons, komikus senior yang pernah menghasilkan Watchman bersama Alan Moore, Kingsman menjadi spesial karena ia tidak lagi membahas tentang superhero meskipun di dalamnya kita masih akan melihat banyak momen dahsyat dari manusia super yang melebeli dirinya sebagai spy alias mata-mata.


Memulai kisahnya jauh ke belakang ketika Lancelot salah satu agen rahasia KIngsman, Lancelot (Jack Davenport) terbunuh dalam misinya di timur tengah. Pasca kematian Lancelot, Harry Hart a.k.a Galahad (Colin Firth), agen senior dirundung rasa bersalah yang kemudian membawanya bertemu dengan Eggsy kecil, memberinya medali kehormatan sang ayah sekaligus menawarkan bantuanny kapanpun dibutuhkan. Dari sini plotnya langsung melompat ke 17 tahun kemudian. Eggsy kecil kini beranjak menjadi pemuda dewasa cerdas namun hidupnya kerap kali berujung dengan masalah, termasuk ketika ia ditahan polisi pasca mencuri mobil yang memaksanya menghubungi Harry Hart untuk membebaskannya. Melihat potensi yang dimiliki Eggsy, Harry bersama rekannya, Merlin (Mark Strong) dan atasannya, Arthur (Michael Caine) kemudian merekrut Eggsy menjadi salah satu kandidat agen Kingsman baru yang dipersiapkan untuk menggantikan posisi lowong yang ditinggalkan Lancelot sekaligus menghadapi ancaman baru dari pengusaha miliyuner teknologi, Richmond Valentine (Samuel L. Jackson), manusia yang bertanggung jawab dengan hilangnya banyak orang-orang penting.


Kingsman menjadi spesial tidak hanya karena ia menginjeksi tema aksi spionase yang notabene salah satu sub-genre populer di DNA-nya, namun yang penting adalah bagaimana Vaughn memperlakukannya layaknya anak kandungnya sendiri. Ya, Kingsman punya semua ciri khas Vaughn dari kekerasan tingkat tinggi yang melibatkan banyak darah dan kepala pecah sampai koreografi aksi memukau dengan segala efek slowmotion cantik dan scoring asik yang tepat sasaran, terutama pada klimaks spektakulernya, plus selipan komedi yang renyah. Sementara naskah yang ditulis Vaughn bersama screenwriter langganannya, Jane Goldman sebenarnya tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar fresh meskipun harus diakui beberapa polesan di sana-sini mampu menghasilkan beberapa kesegaran tersendiri. Narasinya terasa begitu generik, mengusung formula lama thriller spionase ala Bond dengan tambahan elemen from zero to hero dengan struktur transformari karakter yang familiar. Namun dengan memberi penenkanan sekaligus penghormatan besar buat film-film Bond era lawas lengkap dengan nada serius tapi santai, segala parade gadget ‘manusiawi’ yang meliputi pena beracun, granat lighter, sepatu berpisau sampai payung serba guna, Kingsman mampu menjadi sajian action mata-mata modern-klasik yang keren, dan saya masih belum menyebut kehadiran villian tangguh dalam diri Richmond Valentine yang punya misi jahat tidak tanggung-tanggung; menguasai dunia bersama hench(wo)man-nya dengan kaki artifisal mematikan yang sedikit banyak mengingatkan saya pada keangkeran Jaws di The Spy Who Loved Me.


Sisi menarik lain Kingsman adalah karakternya. Colin Firth dengan segala ke-parlentean-nya plus kemeja dan sisiran rambut rapi mampu menonjolkan sisi kebangsawanannya sama bagusnya ketika ia bermain keras dengan sentuhan Vaughn. Firth mungkin bukan jenis “James Bond” yang tangguh, tetapi ia jelas punya kharisma tinggi ketika Vaughn mendapuknya sebagai seorang agen senior sekaligus mentor buat penerusnya. Bukan berarti karakter Harry Hart a.k.a Galahad tidak bertaji, ia punya momennya sendiri yang memukau, lihat ketika ia unjuk gigi memberi pelajaran buat para cecunguk dalam adegan perkelahian di bar, atau puncaknya kekacauan di gereja (yang sayang harus di sunat oleh LSF kita yang terhormat). Karakter Harry Hart menjadi sangat penting dalam usahanya membentuk tokoh Eggsy yang tanpa disangka mampu dijalankan dengan sangat baik oleh aktor muda Inggris, Taron Egerton. Ya, Egerton punya pesona dan enerji tersendiri, sebuah daya tarik yang tidak dimiliki oleh koleganya sesama pemeran teen spy macam Frankie Muniz di Agent Cody Banks atau Stormbreaker dengan Alex Pettyfer-nya. Transformasinya menjadi “the chosen one” mungkin terasa cheesy, namun harus diakui Vaughn mampu mengemas segala hal klisenya menjadi rajutan tontonan menarik dan mengasikan..


Sumber: http://movienthusiast.com/kingsman-secret-service-2015/

 
close