Movie of the Month : The Intern

CloseUp Movie of The Month - The Intern

CloseUp Movie of The Month

  

Film-film bikinan Nancy Meyers biasanya selalu mengangkat relasi antara manusia dengan premis yang menarik, misalnya cerita tentang anak kembar terpisah yang betukar tempat dalam The Parent Trap, bagaimana seorang pria memahami wanita dengan cara yang ajaib di What Women Want, playboy tua yang jatuh cinta dengan ibu kekasih mudanya di Something’s Gotta Give, dua perempuan yang bertukar rumah dalam The Holiday sampai eks pasangan suami istri tua yang mengalami CLBK. Ya, seperti yang saya bilang, Mayers punya banyak stok premis menarik, tidak terkecuali dengan film terbarunya kali ini; The Intern.


Seperti judulnya, The Intern akan mengisahkan tentang seorang pegawai magang, tetapi jika kamu menganggap Anne Hathaway yang didapuk sebagai Jules Ostin adalah intern-nya, maka kamu sudah salah. Ya, menarik memang ketika kemudian adalah ketika Meyers menjadikan sosok gaek Robert De Niro lah sebagai karyawan magang bekerja untuk bos yang jauh lebih muda. Robert De Niro adalah Ben Whitaker, duda yang juga pensiunan manager sebuah perusahaan pembuat buku telepon. Ben bukannya tengah dilanda kesulitan ekonomi sampai ia memaksakan diri untuk bekerja di usia senjanya, sebaliknya, setelah kematian istrinya tiga tahun lalu, ia bosan dan tidak tahu harus melakukan apa. Jadi seperti kebanyakan orang tua jaman dulu yang tidak enak jika tidak bekerja atau melakukan sesuatu dengan tujuan, maka yang dilakukan Ben kemudian adalah melamar ke program senior intern yang ditawarkan oleh About the Fit, sebuah perusahaan fashion e-commerce milik Jules Ostin. Tentu saja Ben diterima dengan CV-nya yang bagus itu, namun bukan berarti kemudian ia bisa langsung bekerja. Ditugaskan sebagai intern langsung buat Jules, Ben malah lebih banyak menganggur karena bosnya lebih senang melakukan semuanya sendiri. Tetapi perlahan kehadiran Ben yang dianggap tidak perlu kemudian menjadi penting dan mengubah hidup Jules selamanya.


Seperti kebanyakan film Nancy Meyers, The Intern juga masuk ke dalam golongan feel good movie, dalam artian, ini adalah film yang bisa diandaikan sebagai sebuah sofa modern empuk yang santai, hangat dan nyaman, nyaris tanpa konflik berarti dan mudah untuk disukai siapa saja. Penontonnya hanya diminta untuk duduk manis dan menikmati ‘hidangan’ buatan Meyesr tanpa perlu berpikir keras, dan harus diakui Meyers jago membuat film-film ringan seperti ini, apalagi kali ini ia punya bekal premis menarik ketika menyatukan dua generasi berbeda dalam satu lingkungan kerja dengan gap budaya dan cara berpikir plus humor-humor segar yang hadir dalam dialog-dialog dan tingkah laku karakternya, misalnya dalam salah satu adegan ‘heist’ yang melibatkan laptop ibu Jules itu.


Tentu saja lucu melihat karakter Ben yang bekerja di perusahaan fashion internet yang jauh dari bidangnya, bahkan di salah satu adegan ia terlihat kesusahan menghidupkan laptop. Jadi akan ada senyum dan tawa ketika Ben berusaha menyesuaikan dirinya dengan pekerjaan baru dan rekan-rekan kerja baru yang seusia dengan anaknya. Menariknya, Ben tidak pernah berubah meski ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, ia tetap adalah Ben Whitaker, tetap memakai setelah rapi dan membawa koper kerja tuanya, sebagai pribadi, Ben juga adalah orangtua baik hati yang peduli dengan sesamanya, tetapi terkadang kebaikannya disalah artikan, seperti kata Jules “Ia terlalu mengobservasi” ketika mendapati Ben sering mengamati gerak-geriknya. Tetapi itu hanya kesan awal dan kesalahpahaman yang buruk, toh pada akhirnya Jules menyadari bahwa Ben hanya peduli padanya, baik sebagai atasan maupun sebagai teman.


The Intern punya casting hebat. Kombinasi apik tua-muda yang diwakilkan De Niro-Hathaway menjadi daya tarik terbesar The Intern. Benturan generasi dan budaya memang yang terasa mencolok di paruh pertama pada akhirnya tidak lagi terlalu menonjol dalam perjalanannya, namun pesona kedua bintangnya sedikit banyak sudah menutupi kekurangannya itu, interaksi yang hadir, chemistry yang dibentuk keduanya mampu bersinergi dengan narasi Meyers. Konflik sekali lagi bukan sesuatu yang ingin ditonjolkan di sini. Komplikasi yang hadir bisa dibilang terasa konyol dan sedikit dipaksakan, premisnya sendiri juga perlahan berubah menuju ke ranah pribadi karakternya yang sedikit disayangkan harus diakhiri dengan ending yang tidak terbaca. Tetapi terlepas dari beberapa kekurangannya, secara keseluruhan The Intern adalah jenis film ringan yang sangat enak dinikmati.


Sumber: http://movienthusiast.com/the-intern-2015/

 
close