Movie of the Month : Terminator

CloseUp Movie of The Month - Terminator

CloseUp Movie of The Month

  

Tidak ada yang memungkiri bahwa Terminator adalah sebuah franchise besar. Seri pertamanya, The Terminator yang dirilis 31 tahun lalu mungkin tidak sampai semeledak The Judgment Day yang merupakan jilid terbaiknya, bahkan sampai saat ini. Meskipun secara finansial masih tergolong untung besar mengingat budget yang digelontorkan hanya bekisar 6 juta Dollar, tetapi jelas tidak akan adaThe Judgment Day jika Cameron tidak meletakan dasarnya pada The Terminator, dan itu yang kemudian menjadikan posisi The Terminator menjadi penting.


Sayang kemudian franchise ini harus tertidur cukup lama, 12 tahun, jauh lebih lama dari The Terminatorke The Judgment Day yang hanya berjarak 7 tahun meski . Tentu saja era sudah berganti. Tahun 2003 menadakan kemunculan kembali seri terbarunya yang diberi tajuk Rise of The Machine, masih menampilkan sang jagoan kita, Arnold Schwarzenegger, sayang kualitas yang dihasilkan Jonathan Mostow yang memegang kemudi dari James Cameron tidak sebaik yang diharapkan, meski secara keselurhan tidak buruk. Mengganti villain utamanya menjadi wanita, menghadirkan premis yang lebih gelap serta menutupnya dengan sebuah bad ending, Rise of The Machine seperti menjadi akhir dari saga Terminator. Tetapi kejutan datang di 2009. Setelah sempat didahului oleh serial televisinya.Terminator: The Sarah Connor Chronicles, Terminator Salvation akhirnya dirilis dengan kondisi babak belur setelah sempat terjadi konflik hak cipta antara The Halcyon Company, Andrew G. Vajna serta Mario Kassar. Tanpa kehadiran Arnie, tanpa dukungan skrip kuat, Salvation menderita luar biasa, menjadikannya sebagai seri terburuk meski lagi-lagi beruntung seri yang dipimpin sutradara McG masih bisa mengeruk cukup untung di tangga box-office. Yang menjadi pertanyaan penting selanjutnya, apakah masih akan ada seri selanjutnya? Dan  jawabannya sudah sama-sama kita ketahui.


Lahir tahun ini setelah lagi-lagi melalui serangkaian masalah, dari hak cipta sampai gonta-ganti sutradara, pemain dan skrip, Terminator Genisys yang kini diproduksi oleh Skydance Productions di bawah lebel Paramount Pictures memproyeksikan dirinya sebagai sebuah reboot. Di bawah kendali sutradara barunya, Alan Taylor yang dua tahun lalu sukses mengarap Thor: The Dark World serta dukungan narasi dari duo penulis naskah, Laeta Kalogridis dan Patrick Lussier, Genisys mencoba menghadirkan awal baru buat wara laba sci-fi action yang semakin menua ini.


Saya suka idenya, mencoba melakukan fresh start dengan mengacak-acak time line aslinya. 20 menit awal Genisys tampak seperti sebuah remake dari The Terminator. Bersetting di bumi pasca kimat tahun 2029, ada Kyle Reese (Jai Courtney) yang ditugaskan oleh sang pemimpin umat manusia melawan mesin, John Connor (Jason Clarke) kembali ke tahun 1984 guna mencegah pasukan mesin Skynet membunuh ibu bos-nya, Sarah Connor (Emilia Clarke). Dari sini plotnya tampak familiar, bahkan masih disertai kemunculan ikonis T-800 dalam wujud Schwarzenegger CGI mulus, plus si cairan metal, T-1000 dari Judgment Day, sayang bukan diperankan oleh Robert Patrick lagi melainka digantikan oleh superstar Korea Selatan, Lee Byung-hun, sebuah casting salah yang nampak sangat dipaksakan.


Narasi Genisys langsung berubah drastis ketika Sarah Connor muncul. Sebuah kejutan ketika Sarah Connor bukan lagi Sarah Connor sang pelayan restoran yang kita kenal di The Terminator, ia sudah menjelma menjadi Sarah Connor sang pejuang tangguh, jauh sebelum even The Terminator terjadi. Tidak hanya itu, Sarah sudah tahu semua tentang rencana Skynet membunuhnya sekaligus mencegah kelahiran John Connor, bahkan yang lebih mengejutkan lagi, Sarah punya T-800-nya sendiri yang entah bagaimana bisa tersesat di masa lalu dan menjadi pengawalnya sejak ia berumur 9 tahun.


Ya, ketimbang para pendahulunya, Genisys bisa jadi punya potensi plot yang (seharusnya) paling rumit. Elemen perjalanan waktunya benar-benar mendominasi, tabrakan paradoks jelas tak terelakan, hal ini bak dua sisi mata uang. Di satu sisi dengan segala lompatan waktunya, ia bisa saja menjadi seri Termintor dengan kualitas cerita terbaik, sementara di sisi lain, ia pun bisa hancur lebur jika penulisnya tidak mampu menguasai premis kompleksnya itu. Nah, sayang yang kita dapatkan di Genisys adalah sisi yang buruk. Alih-alih menjadi sajian action time travel yang menantang.


Baik Laeta Kalogridis dan Patrick Lussier seperti tidak ingin menyulitkan penontonnya, apalagi buat penonton yang baru mencicipi franchise ini dengan konflik waktu yang berbelit. Masalahnya jika kamu sudah menetapkan sebuah konsep reboot besar  yang bersentuhan dengan seri-seri sebelumnya, tentu saja kerumitan cerita jelas tak terlekan, nah, ini yang gagal dikuasai kedua penulis itu.Genisys memang harus rumit, itu sudah konsekuensi besar ketika kamu lancang menganggu sebuah garis waktu yang sudah ditetapkan selama tiga dekade lebih ini. Hasilnya, Genisys menderita banyak di penceritaannya. Gagal memberikan detil yang membutuhkan jawaban, semisal yang paling mencolok adalah bagaimana T-800 bisa sampai ‘tersesat’ di tahun 70’an, menyelamatkan Sarah dari serangan Skynet disaat ia masih berusia 9 tahun? Siapa yang megirimnya dan mengapa?


Ketidakmampuan Kalogridis dan Lussier menjelaskan rinciannya menyebabkan banyak lubang pada narasinya yang tentu saja turut menghasilkan banyak kerutan di kening penontonnya.  Beruntung Alan Taylor sedikit banyak masih mampu menyelamatkan Genisys dari kehancuran total. Bagaimana Taylor menghadirkan rangakaian aksinya jelas patut mendapatkan apresiasi. Memang kenyataanya, momen aksinya tidak sampai terlalu Wah!  Apalagi ketika kamu membandingkannya dengan rilisan musim panas lain macam Furious 7 atau Mad Max: Fury Road, bahkan masih sangat jauh dengan apa yang dilakukan James Cameron di Judgment Day yang bahkan sampai saat ini masih sangat seru ditonton lagi. Tetapi siapa yang tidak terhibur melihat aksi kejar-kejaran klasik yang seperti menjadi pakem seri-seri Terminator ini? Ya, semua elemen aksi konvesional berbalut gelegar spesial efek dan CGI canggih masih mampu memberikan hiburan tersendiri, belum lagi Taylor tahu benar menghormati dua seri pertamanya dengan menyuntikan banyak homage sebagai penghormatan besar, dari kemuculan T-1000 sampai quote fenomenal “I’ll Be Back”.


Car chase, ledakan dan aksi-aksi heroik, semua masih tergolong asik untuk dinikmati, apalagi  dengan kembalinya jagoan kita, Arnold Schwarzenegger yang merupakan maskot kebesaran Terminator setelah sempat absen di Salvation. Arnie masih memerankan sosok ikonis, T-800, robot usang berusia 30 tahun yang setia melindungi Sarah Connor. Menarik melihat karakter Schwarzenegger di sini. Bukan hanya kembali memerankan karakter yang memebesarkan namanya, namun bagaimana ia berkembang. Sang Terminator uzur dibalut dengan kulit sintetis yang meyelubungi tulang-belulang bajanya. Kulit bukan hanya sekedar kulit mirip manusia, namun juga mampu menua dan mengeriput layaknya sebuah kulit alami belum lagi Taylor meberi sentuhan humanis buat karakternya. Elemen ini yang kemudian mampu membuat T-800 versi Genisys menjadi jauh lebih manusiawi ketimbang seri-seri sebelumnya lengkap dengan joke-jokeone liner khas Arnie. Yah, kamu bisa menyebut tokoh T-800 ini sudah layaknya ayah buat Sarah Connor.


Sementara karakter lain yang tak kalah pentingnya tentu saja adalah Sarah Connor sendiri. Diperankan oleh Emilia Clarke, aktris manis pemeran Daenerys Targaryen dari serial populer Game of Thrones (FYI, Clarke adalah jebolan Game of Thrones kedua setelah Lena Headey yang juga sempat memerankan tokoh Sarah Connor di serial televisinya). Meskipun masih mampu menampilkan akting pejuang tangguh yang cukup meyakinkan, namun secara fisik jelas Emilia Clarke terlalu manis untuk dilihat, jelas bukan pilihan cocok untuk didapuk sebagai heroine macam Sarah Connor, jauh jika kamu membandingkannya dengan apa yang pernah dilakukan Linda Hamilton di dua seri pertama Terminator. Ya, Linda Hamilton adalah contoh sempurna seorang jagoan perempuan tangguh. Lalu di tempat lain ada Jai Courtney  sebagai Kyle Reese, tidak ada masalah dengan karakternya karena Kyle Reese praktis bisa dimainkan oleh siapa saja. Last but not Least, pemilihan Jason Clarke sebagai antagonis T-3000 yang super canggih dan mengerikan bisa jadi adalah langkah pintar. Karakternya bisa begitu kejam dan dingin seperti tokoh yang dimainkan Robert Patrick di Judgment Day, dikombinasikan dengan perpaduan kelicikan, manipulasi dan kemampuan kamuflase sempurnya, ia bisa jadi salah satu villain terkuat dalam sejarah Terminator.


Sumber: http://movienthusiast.com/terminator-genisys-2015/

 
close